Jumat, 16 Desember 2011

Makalah bahasa indonesia


KHASIAT BAWANG PUTIH UNTUK MENYEMBUHKAN GATAL AKIBAT GIGITAN SERANGGA

Disusun untuk memenuhi tugas karya ilmiah  Bahasa Indonesia


Disusun oleh:

Purna Chalis
1210702044

BIOLOGI 2B













PROGRAM STUDI BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2011
Barang siapa berjalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga ( H.R Muslim )























Jika manusia meninggal maka putuslah amalnya kecuali tiga macam :
1.      Sedekah jariyah
2.      Ilmu yang bermanfaat
3.      Anak yang shaleh yang mendo’akan kedua orang tuanya
( HR. Muslim)
KATA PENGANTAR

          Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt, karena atas rahmat dan karunia-Nyalah penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini.
            Solawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. Kepada keluarganya, sahabatnya, tabi’in – tabi’innya dan umatnya termasuk kita semua hingga akhir zaman.
            Pada kesempatan kali ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
  1. Allah swt atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini.
  2. Ayahanda dan Ibunda tercinta yang selalu memberikan dukungan baik moril maupun materil.
  3. Muhammad Agus Taufik yang telah memberikan dorongan dengan caranya sendiri.
  4. Sahabat – sahabat yang telah memberikan dorongan di saat mengalami kebuntuan dalam pembuatan karya ilmiah ini.
  5. Rekan – rekan kelas Biologi II B yang telah banyak membantu dalam pembuatan karya ilmiah ini.

Penulis menyadari bahwa karya ilmiah yang dibuat ini jauh dari sempurna. Maka dari itu penulis mengarapkan karya ilmiah ini di jadikan sebagai pedoman dan berusaha untuk menjadi  lebih baik dan lebih sempurna dari yang sebelumnya.
Semoga makalah ini dapat membuka dan menambah wawasan para pembaca.





Bandung, Juni 2011


Purna Chalis
Daftar Isi
                                                                                                                   Hal
Kata Pengantar                                                                                                                     i
Daftar Isi                                                                                                                                iii
BAB I Pendahuluan                                                                                                
            1.1 Latar Belakang                                                                                                   1
            1.2 Rumusan Masalah                                                                                              2
            1.3 Tujuan                                                                                                                 2
            1.4 Batasan Masalah                                                                                                 2
            1.5 Manfaat Penelitian                                                                                              3
BAB II Tinjauan Pustaka                                                                                                   
            2.1 Bawang Putih                                                                                                      4
            2.2 Serangga                                                                                                              8
BAB III Prosedur Penelitian                                                                                               
            3.1 Metode Penelitian                                                                                                11
            3.2 Teknik Penelitian                                                                                                11

BAB IV Hasil dan Pembahasan                                                                                          13
            4.1 Hasil Penelitian                                                                                                    13
            4.2 Pembahasan                                                                                                        17
BAB V Penutup                                                                                                                   
            5.1 Kesimpulan                                                                                                          19
            5.2 Saran                                                                                                                    19
Daftar Pustaka                                                                                                                      v
Lampiran Gambar                                                                                                                vii
Lampiran Angket
 
 BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Dewasa ini penggunaan bahan – bahan organik semakin marak untuk digunakan. Ditambah dengan adanya slogan ‘back to nature’  yang membuat kita akan semakin tergoda untuk memakai bahan alam yang aman bagi tubuh kita.
Banyak bahan alam yang sangat berfungsi bagi kehidupan manusia. Baik sebagai bahan makanan, obat – obatan ataupun hal lainnya. Sayur mayur dan buah – buahan memiliki kandungan gizi dan vitamin yang diperlukan bagi manusia untuk senantiasa sehat. Rempah – rempah pun dapat kita jadikan sebagai penambah rasa untuk membuat makanan tersebut menjadi lezat. Bukan hanya sebagai penambah rasa, namun rempah – rempah pun dapat kita jadikan sebagai obat tradisional untuk beberapa penyakit. Mulai dari penyakit yang ringan seperti gatal, batuk, masuk angina, sampai dengan penyakit yang berat seperti stroke, darah tinggi, dan lainnya.
Gatal akibat gigitan serangga, sedikit banyak dapat mempengaruhi aktivitas kita sehari – hari. Masyarakat modern di Indonesia biasanya menggunakan balsem ataupun kayu putih untuk menghilangkan rasa gatal tersebut. Lain halnya ketika masyarakat di pedalaman mengatasi hal ini. Mereka masih menggunakan obat alami warisan nenek moyang dengan menggunakan bawang merah ataupun bawang putih.


1.2  Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang diatas, penulis dapat mengidentifikasi permasalahan yang ada yaitu :

1.                  Zat apa yang terdapat pada bawang putih sehingga dapat mengobati rasa gatal akibat gigitan serangga?
2.                  Apakah masyarakat mengetahui bahwa bawang putih dapat mengobati bentol akibat gigitan serangga?

1.3  Tujuan

Dari rumusan masalah diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari karya ilmiah ini adalah :

1.                  Mengetahui zat yang terdapat pada bawang putih sehingga dapat menghilangkan gatal akibat gigitan serangga.
2.                  Mengetahui seberapa besar pengetahuan masyarakat terhadap bawang putih yang dapat mengobati gatal akibat gigitan serangga.


1.4              Batasan Masalah

Karena keterbatasan kerangka pemikiran dan kajian pustaka yang dimiliki oleh penulis, maka untuk mencegah meluasnya permasalahan serta menyimpang dari tujuan yang hendak dicapai maka penulis melakukan pembatasan masalah sebagai berikut :

1.                  Karya ilmiah ini tidak menjelaskan bagaimana proses penyembuhan gatal dengan menggunakan bawang putih.
2.                  Daerah penyebaran angket adalah kawasan Bandung.

1.5              Manfaat Penelitian

Dari tujuan penelitian dapat diperoleh manfaat sebagai berikut :

1.                  Memberikan pengetahuan kepada masyarakat bahwa bawang putih dapat menyembuhkan gatal akibat gigitan serangga.
2.                  Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan/contoh bagi para pembuat karya ilmiah dimasa yang akan datang.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1              Bawang Putih

2.1.1        Klasifikasi Bawang Putih

Bawang putih mempunyai nama latin Allium sativum Linn. Sativum berarti dibudidayakan, karena allium yang satu ini merupakan keturunan dari bawang liar Allium longicurpis Regel. Keluarga atau genus Allium sebenarnya ada sekitar 500 jenis lebih, dan 250 jenis diantaranya termasuk bawang-bawangan.
Allium sativum L. termasuk famili Amaryllidaceae, golongan Spermatophyta, subgolongan Angiospermae, ordo Lilliflorae, dan kelas Monokotil. Tanaman ini bisa ditemukan dalam bentuk bergerombol, tumbuh tegak, dan tingginya dapat mencapai 30-60 cm.

1                    Daun

Daun tanaman ini berupa helai-helai memanjang ke atas. jumlah daun setiap tanaman bisa mencapai lebih dari 10 helai. Bentuknya pipih rata, tidak berlubang, berbentuk runcing diatas ujungnya, agak melipat ke dalam (ke arah memanjang), serta membentuk sudut dipermukaan bawahnya. tak seperti jenis bawang lainnya, pangkal daun bawang putih tidak menyimpan makanan, tetapi berbentuk sisik-sisik yang mengering dan minipis jika telah dewasa. Pelepah daun kebanyakan panjang sampai ke dalam tanah yang pada dasarnya adalah kelopak daun. Pelepah ini tetap kuat membungkus kelopak daun yang lebih muda yang berada dibawahnya sehingga membentuk batang semu yang panjang.

2                    Batang

Batang bawang putih merupakan batang semu yang panjangnya dapat mencapai 30 cm dan tersusun dari pelepah daun yang tipis tetapi kuat. Kelopak daun membungkus kelopak-kelopak daun yang lebih muda yang berada dibawahnya hingga pusat batang pokok, dan membentuk batang semu yang tersembul ke luar. Batang pokok tanaman ini sebenarnya merupakan batang pokok tidak sempurna (rundimeter) dengan pangkal atau bagian dasarnya berbentuk cakram.

3                    Akar

Akar bawang putih terletak dibatang pokok tepatnya dibagian dasar umbi atau pangkal umbi yang berbentuk cakram.sistem perakarannya berupa akar serabut (monokotil) yang pendek-pendek dan menghujam ke dalam tanah tidak terlalu dalam, sehingga mudah goyah oleh angin dan air yang berlebihan. Fungsi akar serabut ini hanya sebagai penghisap makanan, bukan pencari air dari dalam tanah. Akibatnya, dalam proses pertumbuhannya bawang putih membutuhkan cukup banyak air.

4                    Siung dan Umbi

Di dekat pusat batang pokok bagain bawah, tepatnya diantara daun muda dekat pusat batang pokok, terdapat tunas-tunas. Dari tunas inilah akan tumbuh umbi-umbi kecil yang disebut siung. Hampir semua daun muda yang berada di dekat pusat batang pokok memiliki umbi. Hanya sebagian kecil yang tidak mempunyai umbi. Daun-daun yang tak berumbi akan berfungsi sebagai pembungkus umbi kecil itu sendiri. Siung ini tumbuh secara bergerombol membentuk umbi. Umbi bawang putih berbentuk mirip dengan gasing. Setiap umbi mempunyai 3-36 siung.
Siung bawang putih terdiri dari dua bagian, yakni dua helai daun dan satu tunas vegetatif. Daun dewasa yang berada dibagian luar siung berfungsi sebagai pelindung dengan membungkus daun yang lebih muda yang berada dibawahnya seiring dengan pertumbuhannya. Daun pelindung ini menipis dan kering tetapi kuat. Daun berbentuk silindris dan dibagian pucuknya berlubang kecil. Helai daun yang lebh muda berfungsi menyimpan makanan sehingga daun yang lebih muda ini akan menebal. Bagian yang menebal inilah yang akan membentuk siung.
5                    Bunga

Bunga tanaman ini berupa bunga majemuk, bertangkai, berbentuk bulat, dan menghasilkan biji untuk bereproduksi secara generatif. Kebanyakan orang tidak mengetahui bahwa bawang putih memiliki bunga, hal ini dikarenakan tangkai bunga bawang putih biasanya  tidak tersembul ke luar jadi bunganya hanya kelihatan sebagain dari luar, bahkan tak terlihat sama sekali. Sering kali bunga tak terbentuk karena sudah gugur sewaktu masih dalam tahap tunas bunga.

2.1.2        Kandungan Bawang Putih

Kandungan yang terdapat pada bawang putih adalah allisin. Adapula kandungan lainnya, yaitu :

a.                   Energi 623 kJ (149 kcal)
b.                  Karbohidrat 33,06 g
c.                   Gula 1.00g
d.                  Diet serat 2,1 g
e.                   Lemak 0,5 g
f.                   Protein 6,39 g
g.                  Beta-karoten 5 mg (0%)
h.                  Thiamine (Vit. B1) 0,2 mg (15%)
i.                    Riboflavin (Vit. B2) 0,11 mg (7%)
j.                    Niacin (Vit. B3) 0,7 mg (5%)
k.                  Asam pantotenat (B5) 0,596 mg (12%)
l.                    Vitamin B6 1,235 mg (95%)
m.                Folat (B9 Vit.) 3 mg (1%)
n.                  Vitamin C 31.2 mg (52%)
o.                  Kalsium 181 mg (18%)
p.                  Besi 1,7 mg (14%)
q.                  Magnesium 25 mg (7%)
r.                    Fosfor 153 mg (22%)
s.                   Kalium 401 mg (9%)
t.                    Sodium 17 mg (1%)
u.                  Seng 1,16 mg (12%)
v.                  Mangan 1,672 mg
w.                Selenium 14.2 mg

Sumber: USDA Nutrient database Nilai gizi per 100 g (3.5 oz)

2.2              Serangga

2.2.1        Klasifikasi Serangga

Serangga berada pada kerajaan Animalia dan filum Arthropoda. Serangga termasuk dalam kelas insekta (subfilum Uniramia) yang dibagi lagi menjadi 29 ordo, antara lain Diptera (misalnya lalat), Coleoptera (misalnya kumbang), Hymenoptera (misalnya semut, lebah, dan tabuhan), dan Lepidoptera (misalnya kupu-kupu dan ngengat). Kelompok Apterigota terdiri dari 4 ordo karena semua serangga dewasanya tidak memiliki sayap, dan 25 ordo lainnya termasuk dalam kelompok Pterigota karena memiliki sayap.

2.2.2        Morfologi Serangga

Secara morfologis bentuk tubuh Arthropoda ditandai oleh stuktur tubuh yang bilateral simetris, tubuhnya seolah-olah bersegmen; anggota badan terdiri dari beberapa sendi-sendi dan tubuh bagian luar diselaputi lapisan kitin yang keras membentuk eksoskleton (kerangka luar ).
Tubuh serangga dibagi atas tiga bagian, yaitu: kepala (caput), dada (thoraks), dan perut ( abdomen ). Pada ketiga segmen thoraks terdapat sepasang kaki sedangkan organ tubuh tersusun berpasangan pada masing-masing segmen. Kebanyakan serangga hidup diatas tanah (terestrial), pada species yang hidup di air (akuatik) seperti kepiting, anggota gerak berfungsi sebagai pendayug waktu berenang/berjalan di air.
Bagian kepala dilengkapi dengan alat indera, seperti: antena bersegmen-segmen, sepasang alat peraba disebut palpa dan sepasang mata faset sederhana terdiri atas susunan lensa majemuk. Mulut sesuai dengan kebutuhan dari jenisnya dapat berupa tipe mulut penghisap dan penjilat dijumpai pada lebah dan lalat. Tipe mulut penusuk dan penghisap memiliki bagian rahang seperti pipa kecil yang panjang, runcing, dan kuat sehingga dapat digunakan untuk menusuk menghisap. Dijumpai pada serangga seperti nyamuk. Tipe mulut penghisap, bentuknya seperti belalai kecil yang dapat digulung yang digunakan untuk menghisap madu bunga. Dijumpai pada serangga kupu-kupu.
Thoraks terdiri dari tiga segmen, yaitu prothoraks, mesothoraks, dan metathoraks, pada tiap segmen terletak sepasang kaki yang masing-masing terdiri dari 6 ruas, yaitu coxa, trochanter, femur, tibia, tarsus, dan pretarsus. Pada beberapa species, masing - masing segmen thoraks kedua dan ketiga, yaitu meso dan metathoraks dilengkapi dengan sepasang sayap, sayap kedua mungkin telah mengalami rudimentasi sehingga mengalami kemunduran dan dianggap berfungsi hanya sebagai alat keseimbangan yang disebut halter. Sayap yang terbentuk dari membran yang transparan didukung oleh batang-batang yang terbuat dari bahan kutikula yang keras yang membentuk kerangka sayap dan disebut vena.
Bagian abdomen pada beberapa species serangga, seperti laba-laba, segmen ini kurang terlihat jelas dan seolah-olah menyatu. Jika terlihat jelas, seluruhnya terdiri dari 11 segmen dan berakhir diujungnya dengan struktur yang disebut telson, misalnya kalajengking. Masing-masing segmen kadang-kadang dapat bergerak bebas karena hubungan antara dinding luar kitin yang keras dan kaku pada masing-masing segmen dihubungkan secara bebas oleh suatu membran yang lentur.

BAB III
PROSEDUR PENELITIAN


3.1              Metode Penelitian

Metode  penelitian yang digunakan, yaitu dengan cara menjelaskan permasalahan dan menguraikan penyelesaian secara menyeluruh menurut kualitasnya disertai dengan eksperimental. Metode eksperimental adalah cara mengumpulkan data dengan menyebarkan angket dan studi pustaka. Langkah - langkah penelitian yang dilakukan penulis adalah sebagai berikut :

1                    Melakukan penelitian melalui studi pustaka.
2                    Melakukan percobaan sederhana mengenai masalah yang diangkat.
3                    Menyebarkan angket kepada masyarakat yang ada di daerah Bandung.

3.2              Teknik Penelitian

a.                   Studi Pustaka

Studi pustaka adalah teknik pengumpulan data dengan mengumpulkan informasi tentang berbagai teori dan konsep-konsep yang berkaitan dengan masalah yang diangkat.


b.                  Percobaan

Percobaan adalah teknik pengumpulan data yang kebenarannya dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah sesuai dengan fakta yang ada.

c.                   Angket

Angket adalah teknik pengumpulan data dengan cara memberikan sejumlah pertanyaan tertulis kepada responden yang berarti responden dapat memberikan informasi sesuai sikap dengan pertanyaan yang diajukan dalam angket yang telah dibuat.
Teknik ini digunakan agar responden lebih leluasa dalam memberikan informasi tanpa dipengaruhi mental hubungan antara penelitian dan responden serta data yang didapat akan lebih mudah dianalisa.



BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1              Hasil Penelitian

4.1.1        Teknik Penelitian Dengan Studi Pustaka

Allisin adalah senyawa kimia yang terdapat dalam bawang putih. Allisin terbentuk dari reaksi antara enzim alliinase dan suatu bahan asam amino nonprotein yang disebut dengan alliin.
Allicin merupakan suatu bahan cair berminyak yang berwarna kuning, dimana gugus SO yang dimilikinya menyebabkan bau yang khas pada bawang putih (North and Quadrini, 2001, www.chem.ox.ac.uk/mom/allicin/ALLICIN mol).
Saat  bawang putih dihancurkan maka allisin yang bersifat tak stabil ini akan berubah secara spontan menjadi sulfida karena bereaksi dengan oksigen.
Allisin merupakan salah satu komponen aktif utama dalam bawang putih yang mempunyai efek antibakteri, antioksidan, dan antikarsinogenik (Nicolic, dkk, 2004, www. marketing extenza-eps. com/ RSS/ phmz. xml).


4.1.2                    Teknik Penelitian Dengan Percobaan

Percobaan yang dilakukan adalah dengan mengoleskan bawang putih yang sebelumnya telah diris ke arah tubuh yang terkena bentol akibat gigitan serangga. Oleskan beberapa kali dan tunggu hingga bentol-bentol dan rasa gatal hilang. Apabila setelah beberapa jam masih terasa gatal, oleskan kembali bawang putih tersebut secara rutin.
Dari percobaan tersebut dapat disimpulkan bahwa bentol akibat gigitan serangga tersebut dapat hilang dan terbebas dari rasa gatal. Walaupun, tidak secara spontan bentol itu sembuh dan perlu beberapa kali untuk mengulanginya.
Pada kasus gigitan nyamuk, ketika bawang putih di oleskan pada bagian tersebut maka efek yang ditimbulkan tidak akan terasa sakit atau perih. Lain halnya ketika gigitan serangga lain yang menimbulkan bentol diolesi bawang putih maka efek yang ditimbulkan akan terasa sakit atau perih. Hal ini karena terjadi reaksi yang berbeda antara kedua jenis bentol tersebut.


4.1.3                    Teknik Penelitian Dengan Angket

a.                   Tabel Data

Pertanyaan
a
b
c
d
e
f
g
Apakah anda mengetahui bahwa bawang putih dapat menyembuhkan gatal akibat gigitan serangga?
23
17





Dari mana anda mengetahuinya?

17
9
3
2

9
Apakah anda pernah mencobanya?
11
29





Apakah bentolnya itu sembuh?
11
29






                        Keterangan :
a
Ya
b
Tidak
c
Orang Tua
d
Media Cetak
e
Media Elektronik
f
Teman
g
Dll
           
           





b.                  Diagram Data

           

4.2               Pembahasan

Bawang putih memiliki banyak kandungan senyawa maupun gizi yang terdapat didalamya. Salah satu senyawa dari bawang putih yang sangat berguna bagi manusia adalah allisin.
Allisin adalah senyawa organosulfur yang diperoleh dari bawang putih. Allisin pertama kali diisolasi dan dipelajari di laboratorium oleh Chester J. Cavallito dan John Hays Bailey pada tahun 1944. Cairan dari allisin ini tak berwarna dan memiliki bau khas yang menyengat. Senyawa ini menunjukkan sifat antibakteri dan anti-jamur. Allisin adalah mekanisme pertahanan alami dari bawang putih terhadap serangan hama.
Saat bawang putih dihancurkan maka allisin akan berubah secara spontan menjadi sulfida karena bereaksi dengan oksigen dan dikatalisis oleh enzim alliinase.
Ketika bawang putih yang mengandung sulfida dioleskan pada bentol yang disebabkan oleh gigitan serangga, maka akan terjadi suatu reaksi yang dapat membantu menghilangkan rasa gatal sekaligus membuat kulit terbebas dari bentol.
Menjadi hal yang dapat diterima oleh akal, jika nenek moyang kita pada zaman dahulu menggunakan bawang putih sebagai upaya untuk menyembuhkan gatal akibat gigitan serangga.
Namun, pengetahuan masyarakat tentang bawang putih yang berkhasiat dapat menyembuhkan bentol akibat gigitan serangga dirasakan sangat kurang. Hal ini diperkuat dengan angket yang telah penulis sebarkan kepada masyarakat. Kebanyakan masyarakat tidak mengetahui bahwa bawang putih dapat mengobati bentol akibat gigitan serangga. Hanya sebagian kecil saja yang mengetahui sekaligus pernah mencoba memakai bawang putih sebagai obat alami penyembuh gatal akibat gigitan serangga.
Kebanyakan dari mereka yang mengetahui bahwa bawang putih dapat menyembuhkan gatal akibat gigitan serangga mendapatkan informasi dari orang tua mereka. Hal ini disebabkan karena bawang putih merupakan obat tradisional alami yang di percaya oleh nenek moyang kita sejak zaman dahulu hingga sekarang yang terus-menerus diwariskan secara turun-temurun dari generasi-kegenerasi.

BAB V
PENUTUP

5.1              Kesimpulan

a.                   Zat yang dapat menyembuhkan gatal akibat gigitan serangga adalah senyawa allisin yang dapat berubah menjadi sulfida.
b.                  Hanya sedikit masyarakat yang mengetahui bahwa bawang putih dapat menyembuhkan gatal akibat gigitan serangga

5.2              Saran

a.                   Meneliti bagaimana proses penyembuhan secara detail menggunakan bawang putih.
b.                  Melakukan eksperimen di laboratorium untuk mendapatkan hasil yang maksimum.

Angket/Quisioner



  1. Apakah anda mengetahui bahwa bawang putih dapat menyembuhkan gatal akibat gigitan serangga?

a.       Ya
b.      Tidak

  1. Dari mana anda mengetahuinya?

c.       Orang tua
d.      Media Cetak
e.       Media Elektronik
f.       Teman
g.      Dll

  1. Apakah anda pernah mencoba menggunakannya ?

a.       Ya
b.      Tidak

  1. Apakah bentol akibat gigitan serangga tersebut sembuh ?

a.       Ya
b.      Tidak


LAMPIRAN GAMBAR


Gambar 3

Setelah diolesi oleh bawang putih.
 
Gambar 2

Bentol karena gigitan nyamuk.
 
Gambar 1

Bawang putih yang digunakan untuk melakukan percobaan sederhana.
 



Gambar 5

Setelah diolesi oleh bawang putih beberapa kali.
 
Gambar 4

Bentol karena gigitan serangga lain.
 
Daftar Pustaka

Purwaningsih, Eko. -. Bawang Putih. -: Ganeca.
Syamsiah, Iyam Siti dan Tajudin . -. Khasiat dan Manfaat Bawang Putih Raja Antibiotik Alami.
Evennett, Karen.2003. Khasiat Bawang Putih. Jakarta: Arcan
Natadisastra, Djaenudin dan  Agoes, Ridad. 2005. Parasitologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
NN, http://www.kamusilmiah.com/kesehatan/kandungan-dan-khasiat-bawang-putih/, diakses,  pukul 10.05 tanggal 14 Mei 2011.
NN, http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=130, diakses, pukul 11.00 tanggal 14 Mei 2011.
NN, http://www.kaskus.us/showthread.php?p=342664560, diakses, pukul 12.54 tanggal 3 Juni 2011.
NN, http://archive.kaskus.us/thread/1267373/, diakses, pukul 13.00 tanggal 3 Juni 2011.
NN, http://ceriwis.us/showthread.php?t=4425, diakses, pukul 13.10 tanggal 3 Juni 2011.